Sedikit tentang 'Cerita dari Digul'

Judul           : Cerita Dari Digul
Penyunting  : Pramoedya Ananta Toer
Harga           : Rp. 60.000

Nama Digul bagi angkatan muda saat ini tidak banyak dikenal apalagi kisah-kisah tentang tempat tersebut. Padahal bagi beberapa penulis dulu Digul merupakan salah satu tempat persemaian kemerdekaan, sebab beberapa tokoh perintis kemerdekaan Indonesia pernah diasingkan di tempat ini seperti Moh. Hatta dan Sjahrir. Maka terimakasih kepada Pramoedya karena telah berusaha mengumpulkan beberapa cerita dan menyunting buku ini menjadi potongan cerita Digul yang lebih mudah dikenal angkatan muda sekarang.

Awalnya, tempat pengasingan Digul (Tanahmerah) ini dibuat oleh pemerintah kolonial Belanda untuk mengasingkan orang-orang merah atau diduga terlibat dalam pemberontakan PKI tahun 1926. Bahkan hukuman tersebut diberikan tanpa adanya keputusan pengadilan. Pramoedya dalam pengantarnya menilai tempat pengasingan ini adalah salah satu skandal Belanda. Karena mereka ingin membuka keasisten-residenan Belanda di Digul dengan menggunakan orang-orang yang dianggap mengancam kekuasaan Belanda serta mulai menghentikan pengasingan ke luar negeri. Tetapi awalnya Belanda merasa collapse dengan kebijakan ini sebab dengan membukanya wilayah baru berarti belum adanya fasilitas apa-apa dan pemerintah mengirim segala kebutuhan tahanan melalui kapal dari Jawa. Hingga akhirnya volksraad memutuskan untuk memulangkan sebagian tahanan yang dianggap tidak terlalu berbahaya.

Pramoedya memandang beberapa cerita dari Digul ini sebagai sejarah Bangsa maupun Bahasa Indonesia yang tidak seharusnya dilupakan. Tetapi dia hanya menyantumkan tulisan para eks-digulis yang memang pernah menjadi tahanan disana. Bahkan salah satunya adalah cerita yang mengandung unsur psikologi pertama, menurut Pram dalam sejarah sastra Indonesia sejak Sumpah Pemuda.
Sebarkan:

Cerita tentang Kebahagiaan dan Kesedihan

Semua orang punya luka, entah nampak entah kasat mata. Di rumah, luka selalu mendapat perhatian bisa jadi hanya sekedar pertanyaan atau perawatan. Hingga seakan-akan tidak ada yang mempunyai luka di rumah. Orang selalu bersimpati dengan luka orang lain sekiranya orang itu berada di rumah. Lucunya, luka selalu bisa disembunyikan di rumah, bahkan itu sering terjadi hingga menjadi sebuah norma; rumah tempat berbahagia.


Di suatu malam, bulan tampak lebih besar daripada biasanya, cahayanya meremang kuning seperti di warung-warung kopi pangku. Beberapa kali awan mencoba menutupi cahayanya yang mengalahkan lampu-lampu jalanan, tapi seketika pula angin menyingkirkannya. Comberan air bekas hujan di lubang-lubang jalan yang jelek seakan ikut menikmati bulan yang tidak biasa. Pantulannya mengingatkan saya dengan mata bulat kecil yang mendambakan gemerlapan cahaya. Pantulan mata yang dimiliki oleh seorang perempuan yang saya kagumi.


Peraturan rumah yang mengharuskan saya pergi keluar, kesedihan saya tidak boleh mempengaruhi penghuni lain. Kegelapan malam tambah mengingatkan saya dengan momen-momen saat kami menghabiskan malam di jalanan. Warna hitam di antara bintik gemerlap bintang serta lampu yang silau tidak juga menghilangkan memori saya yang seharusnya sudah usang. Saya terbayang senyummu yang tak tampak serta kebahagiaan malam dulu yang menurutmu perbuatan setan. Cahaya seperti enggan memerhatikan kami yang berdosa selain cahaya api korek dan bara rokok. Tapi kami tetap berbahagia.

“Bukankah kebahagiaan sangat mudah didapat, lalu untuk apa orang-orang mencarinya sampai mati,” gumam saya. Tapi saya keluar rumah juga untuk mencarinya dan membagikan kepada penghuni rumah. Yang terpenting kebahagiaan ini untuk mengobati kesedihan saya, supaya saya bisa segera kembali ke rumah. “Luka karena perempuan mungkin juga harus diobati dengan perempuan,” seakan kata ini muncul begitu saja dalam pikiran saya. Mungkin ini yang namanya wahyu, saya girang memikirkannya.

Belum lama pikiran itu membahagiakan saya, dalam perjalanan saya bertemu seorang perempuan yang pernah cukup meninggalkan kesan dalam kebahagiaan saya. Sayangnya dia bahkan membuang muka terhadap saya. Saya takut sapaan tidak akan mendapat tanggapan maka saya diam dan berlalu begitu saja.

***

Dia dikenal dengan perempuan yang ceria, senyumnya sangat memikat bagi saya. Kami mengenal beberapa hari sebelum akhirnya kami benar-benar dekat. Keceriaannya yang mengingatkan saya untuk tidak sering keluar rumah untuk mencari kebahagiaan. Saya cukup mendapatkannya dari gambar wajahnya yang lucu dan tulisan-tulisannya yang menghibur.

Sekali waktu, dalam pertunjukan teater dia pernah bercerita tentang kehidupannya. Saya tidak tertarik dengan ceritanya tentang impiannya yang kosong dan pertunjukan yang tidak sempat saya tonton. Saya hanya tertarik dengan wajahnya saat berbicara, pipinya yang cembung beberapa kali naik dan mendesak matanya menjadikannya terlihat sipit. Di tengah pertunjukan yang membosankan kami saling diam, mungkin dia terlalu cepat bercerita hingga ceritanya habis. Beberapa kali dia memberi isyarat pada saya untuk menceritakan sesuatu. Tapi saya tetap diam dan pura-pura tidak memahami isyaratnya. Saya khawatir jika menceritakan sesuatu saat diluar rumah yang keluar hanyalah ungkapan kesedihan. Dia terlihat kecewa malam itu, tapi saya rasa ini adalah hal yang benar.

Beberapa hari setelah malam itu dia tidak lagi mengirimkan tulisannya, hiburan saya hilang, saya tidak bisa terus menyembunyikan kesedihan di rumah, maka saya keluar dari rumah. Di luar, saya tak juga mendapatkan kebahagiaan untuk saya bawa pulang, sebab saya masih juga terbebani perasaan bersalah kepada dia. Hari-hari setelahnya saya lihat dia tidak lagi ceria terhadap saya, tapi iya terhadap orang lain. Saya merasa kebahagiaan saya direnggut oleh orang-orang itu. Apakah hanya sebatas ini kesan yang saya berikan kepadanya terbalas, saya kecewa kebahagiaan bisa hilang begitu cepat dan saya menyesal telah mencarinya selama ini.

***

Jalanan yang rusak tidak memindahkan memori saya dari kenangan-kenangan yang sempat saya lupakan karena kebahagiaan dan kesedihan yang lain. Comberan air yang tergenang dalam lobang jalan muncrat dari roda motor seperti air mancur di taman kota. Saya tidak peduli orang-orang mengumpat karena terkena cipratan itu, saya kesal terhadap semua orang yang menuntut kebahagiaan. Saya pikir semua orang pasti seperti itu, juga orang-orang di rumah, maka saya ciprat saja semuanya. Biar mereka sadar kebahagiaan mereka selama berada di jalan hilang sekejap karena marah terkena comberan air jalan. Biar mereka sadar, sembari saya terus berlalu menjauhi rumah.
Sebarkan:

Kulo Mbeling Gusti...

Dulu, saya masih mengingat betapa ceria dan bahagianya saya meski jika saya lihat kembali bekas-bekas masa saya dulu saya merasa jijik dan malu. Begitulah masanya pikirku, masa bagi yang muda bersenang-senang tanpa sadar batas. Tidak terkecuali saya.

Saat itulah saya merasa telah membuat satu belokan berarti terhadap hidup saya. Tepatnya sejak saya akan keluar dari pesantren. Lompatan yang menjadikan saya sangat merasakan bahwa memang kiamat sudah dekat sekali. Entah mengapa saat menjelang lulus saya tengah menggandrungi sesuatu yang dulunya saya anggap nista. Mulai merokok, keluar malam dengan cewek, hobi nonton film blue, sampai menirunya.

Selain kesenangan melakukan hal yang terakhir, dengan itupula saya seringkali tidak memandang rendah orang lain, karena bagi saya yang paling rendah adalah saya karena tidak dibolo ilmu. Ini hal yang saya tau seharusnya tidak saya lakukan tetapi tetap saya lakukan. Bukan saya membanggakan dosa yang telah saya perbuat atau membenarkan yang salah. Inilah bentuk penyesalan saya atau bisa saja disebut tebusan supaya yang seperti ini cuma saya

Lagipula dengan kelakuan itu juga saya sadar bahwa menjadi pandai bukanlah anugerah yang mudah. Saya lebih suka menyebut cobaannya orang pandai. Selebihnya saya yakin kalau saya sangat tidak pantas menjadi pandai. Bagaimana tidak, wong jaga diri sendiri saja tidak bisa, apalagi untuk mengajarkan kepada orang lain. Jangan jauh-jauh mengajarkan, menginsafkan diri saya sendiri saya lo ndak berani, saya benar-benar takut jika ingkar. Meski saya tau sebesar-besarnya dosa manusia, ampunan Gusti Allah jauh lebih besar, tapi saya sungkan, apa yang dilarang Gusti Allah saya lakukan dengan sengaja, masak saya minta Gusti Allah memaafkan saya. Saya hanya berani bilang kulo mbeling Gusti..


Sebarkan:

Nasihat Ghaib



Kelas tampak riuh ramai seperti biasanya, jam istirahat selalu membuat anak-anak tertarik untuk bermain sepakbola di halaman sekolah dan kejar-kejaran satu sama lain. Meski hari sedang terang dan panas seperti ini mereka seakan menghiraukannya. Bahkan kerikil yang sejak tadi terkena sinar matari pun mereka injak-injak dengan kaki telanjang tanpa ragu. 

Sesekali saya amati mereka dari ruang kelas yang berada di atas mereka. Senang rasanya melihat mereka tertawa lepas, apalagi jika salah satu dari mereka beraksi konyol setelah mencetak gol yang sangat tidak berkesan. Saya juga ikut tertawa lepas melihat tingkah mereka, tapi kesenangan mereka lalu dibuyarkan oleh seorang tua yang biasa mengangkuti sampah di sekitar sekolah lewat di tengah lapangan seketika itu pula mereka berhenti tertawa dan membuka jalan untuknya. Inilah yang membuatku suka terhadap mereka, tidak ada seorang jompo pun yang dijadikan mereka guyonan. Mereka menghormati setiap orang tua, sebab bagi mereka orang tua adalah orang yang lebih lama hidup, maka pasti lebih pandai dari mereka.

Lalu secara tidak sadar saya seperti mengingat tapi melihat seorang tua yang sedang koma yang juga belum pernah saya temui sebelumnya. Dia layaknya orang tua pada umumnya. Rambutnya telah putih merata, begitu juga kulitnya yang keriput hanya di hiasi dengan bercak-bercak hitam tahi lalat yang terhitung banyak. Tubuhnya lelah, banyak disampingnya mesin-mesin kedokteran yang saya tidak tau namanya juga nama orang tua itu.

Dari sekitar, jelas ini bukan rumah sakit, tetapi seorang perawat wanita menggenggam semacam balon yang dihubungkan ke hidung pak tua itu dan ke tabung oksigen disampingnya. Sesekali dadanya mengembang saat perawat menekan balonnya dan mengempis setelahnya. Saat itu juga saya tau pak tua itu sudah tidak bisa bernafas sendiri.

Entah karena apa, saya mendengar suara orang tua. Awalnya saya kaget mendengarnya, sebab semua perawat adalah wanita. Juga terlihat olehku tidak ada seorang yang menghiraukannya, lalu kulihat lagi wajah pak tua itu untuk memastikan. Ternyata wajahnya masih tenang dan tidak berubah sejak awal saya melihatnya. Lalu saya coba untuk memotong ucapannya dengan pertanyaan, ”siapa itu? Siapa?”. Tapi percuma saja, suara itu seakan juga tidak mendengarku. Lalu aku dengarkan saja ucapan orang tua itu.

”Ampuni saya Tuhan, ampuni saya. Saya pikir dengan kerja keras saya sendiri saya akan bisa mengajari anak-anak saya mandiri dan dapat membuktikan bahwa dengan ketekunan bekerja seperti ini saya bisa sukses. Saya menyesal menjadi kaya seperti ini Tuhan,” suaranya putus-putus karena isaknya.

Suaranya hampir seperti menggema dalam ruangan ini tapi tetap saja, sepeti hanya saya saja yang mendengarnya. Tidak lama setelahnya saya dikagetkan dengan suara ribut diluar, terdengar seperti pertengkaran dan tangis seorang wanita dari salah satunya. Perawat yang sejak tadi terlihat mengantuk pun juga ikut terperanjat karena mendengarnya. Saya yang merasa asing ditempat itu segera mencari tempat untuk sembunyi yang bisa untuk melihat kejadian selanjutnya. Karena bingung saya tidak menyadari, suara orang tua itu juga ikut diam mengetahui suara ribut tadi mendekat. Setelah kudapati tempat sembunyi dibalik kelambu jendela yang cukup panjang, saya tidak mendengar pintu ruangan ini terbuka, tetapi suara ribut tadi tak kunjung menjauh malah rasanya mereka ada di depan ruangan ini.

”Jangan bertengkar terus, kasian bapak kalau mendengar kalian seperti ini,” sekali terdengar agak jelas suara perempuan yang menangis diluar melerai mereka.

”Dia sudah sekarat!” bentak seorang laki-laki, ”menghabiskan uang saja jika bapak terus seperti ini, tidak bakal dia akan hidup kembali, dimana-mana sudah tidak sanggup merawat dia,” ucapnya keras.

”Begitu kasar kau dengan bapak, aku telah jual mahar kawinku untuk bantu kau. Apa hartamu habis separoh karena bapak, ha?” balas lelaki satunya.

”Ini hasil keringatku sendiri, dia punya hasil keringatnya”

Sesekali masih terdengar tangisan perempuan tadi tanpa melerai.

”Siapa ajari kau bicara semacam itu?”

”Bapakmu”

”Kau akui bapak pun sudah tidak mau, lalu kau tuduh bapak bicara semacam itu?” balasnya geram

”Dia pernah berkata, hasil kerja kerasku akan aku nikmati sendiri nantinya,” jawabnya sinis.

”Dangkal sekali otakmu”

”Kau tidak salah bicara, ingat kau dulu kalau punya ibu dan adik?” dia menahan amarah hingga menangis ”Sudah terlalu manis hidupmu dan Ersa dengan uangnya.”

Samar-samar juga terdengar suara tangis orang tua itu ditahan dan akhirnya lepas juga sedannya. Ya Tuhan, ucapnya sambil terisak, ”tolong sudahi siksa seperti ini,” sejenak dia berhenti, ”tolonglah nak jangan melanjutkan kebodohan ayahmu,” ucapnya mantap, ”kalau saja kalian tidak ada yang kaya, tidaklah wajib kalian membiayai bapak.”

”Ya Tuhan izinkan saya berbicara dengan anak saya saat ini.”

Tidak terdengar olehku jawaban dari permohonan pak tua itu lantas dia tetap melanjutkan saja. ”Nak, menjadi kaya bukanlah sukses, kaya hanyalah jalan menuju sukses yang sejati.” Saya mencoba mendekat karena tertarik dengan ucapannya. ”Segiat apapun kalian mencari kebahagiaan disini, kalian tidak akan menemukannya. Kebahagiaan disini fana, tidaklah panjang umurnya, begitu juga kita.
Sebarkan:

Wakil

”Fasilitas mewah harus terpenuhi untuk menunjang kinerja para wakil rakyat termasuk mobil, rumah dan pelayanan,” kata seorang sakit jiwa.

Orang berfikir sesuatu yang mewah pastilah nyaman. Padahal rasa nyaman dapat membuat seseorang abai pada kewajibannya. Namun, jika tujuan segala fasilitas itu untuk menunjang kinerja pemerintah, maka pertanyaannya: kinerja macam apa yang perlu ditunjang?

Kalau hanya masalah tepat waktu, di Jakarta seseorang lebih baik memakai sepeda motor karena tidak butuh banyak ruang di jalan raya. Sedang mobil, semewah apapun masih membutuhkan dua kali luas ruang yang dibutuhkan. Dan lagi-lagi soal fasilitas membuat saya bertanya: bagaimana bekerja dengan baik bila para dewan sering terlambat ngantor dan bahkan sering bolos? Kepentingan siapa yang mereka perjuangkan: individu dan golongan atau kepentingan rakyat?

Sebagai pribadi, kepentingan individu adalah lumrah. Tapi dalam konteks wakil rakyat, sikap mementingkan diri sendiri sangat merugikan rakyat selaku orang yang diwakili. Sebab, wakil rakyat adalah pengayom rakyat dan penyelenggara kepentingan bersama. Artinya kesalahan seorang wakil rakyat bukan hanya dia pribadi yang menanggung, tapi seluruh rakyat. Banyak orang beranggapan bahwa “keinginan” adalah salah sesuatu yang wajib dipenuhi. Padahal, seorang wakil rakyat yang benar-benar teguh dengan keinginannya dapat menjadi seorang yang ambisius. Sedang seorang yang ambisius akan mengupayakan keinginannya dengan segala cara.

Seharusnya, seorang wakil rakyat adalah orang yang mampu mengesampingkan kepentingan pribadi. Karena pada hakikatnya seorang wakil rakyat adalah pelayan bagi rakyat. Dan pelayan itu seharusnya bekerja untuk memenuhi kebutuhan rakyat. Selain itu, wakil rakyat yang baik harus ikut menanggung beban hidup rakyat.

Sebenarnya wakil rakyat yang bisa berlaku layaknya pelayan, akan mendapat apresiasi rakyatnya. Tetapi sekarang, seakan wakil rakyat harus dipenuhi kebutuhan dan keinginannya tanpa harus memberikan pelayanan yang layak kepada rakyatnya. Bahkan tren saat ini, yang paling diutamakan adalah kebutuhan pribadi seorang wakil rakyat dan golongannya saja ketimbang kebutuhan rakyat. Sedangkan di lain pihak, untuk kebutuhan makan sehari-hari, banyak rakyatnya kerepotan.

Wakil rakyat layaknya sopir angkutan umum dan anggotanya adalah penumpang. Wakil rakyat mengantarkan ke tujuan yang diinginkan penumpang tetapi tetap pada jalur yang telah ditetapkan. Meski dia pemegang otoritas tertinggi tetapi tidak sah hukumnya menentukan tujuan tanpa persetujuan dari keseluruhan penumpang.

Wakil rakyat yang baik tidak mencalonkan tetapi dicalonkan. Dengan begitu, setidaknya dalam memilih antar calon wakil rakyat ada hubungan emosional antar calon wakil rakyat dan rakyatnya. Sehingga sedikit banyak terdapat beberapa orang yang mengenal betul pimpinannya. Dengan begitu, akan dapat diketahui mana yang paling layak menjadi wakil rakyat. Juga memilih seorang yang sudah benar-benar tercukupi segala kebutuhannya hingga tak ada keinginan untuk menambah kekayaannya lagi. Lalu, jika sewaktu-waktu terdapat kesalahan padanya dia akan mudah dibenarkan karena dia telah mendapat kepercayaan penuh sebelumnya. Selain itu, sebaiknya seorang wakil rakyat pernah merasakan kesengsaraan karena sewajarnya jika dia sudah pernah merasakan susahnya hidup sengsara maka dia tidak akan memberikan kesengsaraan pada orang lain.

Sebaliknya, jika calon wakil rakyat mencalonkan dirinya sendiri bukankah itu mengindikasikan bahwa dia telah yakin dirinya pantas memimpin. Sedangkan orang yang merasa dirinya pantas hanyalah orang yang sulit untuk berkembang. Maka dia tidak pantas memimpin.

Sistem yang Salah

Mungkin sebab kesalahan kecil dari sistem yang berlaku di Indonesia saat ini, menjadikan wakil rakyat kita selalu tidak bisa melakukan sesuatu yang maksimal. Karena, dalam sebuah pemilu, kita tidak benar-benar memilih calon wakil rakyat. Melainkan, semua calon wakil rakyat kita, adalah pilihan dari partainya masing-masing. Sedangkan partai yang boleh mengikuti pilpres hanya partai yang telah menduduki 25 persen kursi DPR. Dalam artian, kita dipilihkan calon yang akan kita pilih. 

Kenyataannya, partai hanya menjadi sarana pengumpulan massa dan pembaharuan bendera selain merah putih. Padahal, Indonesia sudah memiliki ideologinya, bendera, rakyatnya sendiri. Lalu mengapa harus perlu mendirikan partai-partai yang juga memiliki ideologinya, benderanya, massanya? Bukankah sama saja kita merelakan berdiri negara dalam negara kita?

 


Sebarkan:

Iblis



Banyak orang berkata bahwa Iblis adalah sosok yang paling “buruk” di alam semesta. Jika ada seorang manusia yang berbuat dosa, dia pasti yang pertama disalahkan. Padahal, tanpa digoda pun manusia akan mengikuti jalannya.

Mungkin pendapat mereka tentang Iblis cukup berasalan. Berangkat dari sesat pikir bila iblis adalah makhluk durhaka yang ditugaskan menggoda manusia, sehingga iblis serta-merta dituduh sebagai aktor utama segala keburukan duniawi.

Selain itu, Iblis juga digambarkan sebagai makhluk yang sikap sombongnya kelewat batas. Iblis memang buruk dalam penampilan, tapi dia mampu menyamar sebagai seorang atau sesuatu yang menarik sesukanya. Tapi, apakah masuk akal jika hanya karena itu Iblis pantas menjadi makhluk paling buruk?

Manusia juga punya andil tersendiri untuk melakukan kesalahan tanpa godaan iblis sekalipun. Maka apologi paling ampuh untuk mentolelir kesalahan manusia adalah dengan meng-kambing-hitamkan Iblis.

Alkisah, Iblis dan malaikat adalah penghuni sorga. Mereka berdua diciptakan dari sesuatu yang sama: cahaya. Hanya saja cahaya si Iblis membakar sedangkan cahaya malaikat tidak. Tapi, ketentraman tersebut tidak bertahan lama, hingga Allah menciptakan seorang makhluk dari sesuatu yang remeh: tanah.

Saat itu terjadi banyak perdebatan antara malaikat dan Allah saat proses penciptaan manusia. Sebab, malaikat khawatir bila, selain punya sifat baik, manusia juga punya segudang sifat buruk. Tetapi karena malaikat termasuk makhluk yang penurut, dia pun diam setelah Allah berkata, ”Aku tau apa yang kalian tidak tau.”

Lalu datanglah perintah dari Allah kepada penghuni surga untuk bersujud kepada manusia sebagai masterpiece ciptaan-Nya. Dalam momen seperti ini, hanya Iblis makhluk yang menolak untuk bersujud. Iblis merasa dirinya lebih baik dari manusia. Sebab dia diciptakan dari api sedang manusia dari tanah. Meski dia mempunyai alasan, tetapi dia telah durhaka dengan perintah yang seharusnya wajib ia laksanakan.

Bahkan, ada yang beranggapan bahwa sebenarnya iblis menolak bersujud karena mentauhidkan-Nya. Karena bersujud kepada selain Allah adalah haram hukumnya. Tetapi jika dilihat dari konteksnya terasa tidak mungkin jika Allah memerintahkan melakukan sesuatu yang dilarang karena Dia Yang Maha Benar.

Akibat pelanggaran tersebut, Iblis menerima hukuman dilaknat oleh Allah. Karena hal itu, mungkin tidak dimungkinkan baginya mendapat ampunan. Tapi, sejak saat itu Iblis meminta dipanjangkan umurnya dan ingin mengabdikan dirinya sebagai penggoda manusia sampai hari akhir.

Dalam segi keimanan pun dia tidak kalah meskipun dengan seorang nabi. Bagaimana tidak, tugas Iblis adalah menggoda manusia dan dia sukses dalam hal itu. Lagipula, dia masih iman atau percaya kepada Allah, dia sadar bahwa hanya dengan Kun-Nya dia akan hancur seketika. Sedangkan Nabi Musa, dia akan mampu beriman sepenuhnya jika sudah melihat Dzat-Nya. Meskipun beliau hanya melihat sebagian dari Dzat-Nya beliau pingsan.

Bahkan dalam sumber lain mengisahkan bahwa dahulu Iblis merupakan makhluk yang paling dikasihi oleh Allah. Sedang nama Iblis sendiri baru diperoleh setelah dia membangkang perintah-Nya. Bahkan, malaikat yang diciptakan untuk taat pun kagum kepadanya karena seluruh do’a Iblis dikabulkan. Dan sebab ketaatannya pula dia pernah diangkat menjadi pemimpin para malaikat. Karena anugerah yang begitu melimpah dia mulai lupa diri dan sombong.

Saya percaya bila apa yang terjadi di surga merupakan skenario keakraban Allah pada setiap makhluk. Ada yang bertugas meluruskan jalannya manusia dan ada yang menggoda manusia. Hal ini merupakan bahasa Allah dalam menciptakan sebuah keseimbangan dalam kehidupan manusia. Dan dengan kesetiaan iblis menggoda manusia sampai akhir jaman dan kerelaan Iblis untuk menjadi tokoh antagonis dapat menunjukkan bila Iblis pun taat pada hukum Allah.

Dari segi keimanan, ketaatan dan catatan historis, Iblis merupakan makhluk yang “lebih” dari kebanyakan manusia. Tetapi, manusia yang ditugaskan untuk menjadi pemimpin, malah merusak dan menindas satu sama lain. Kekhawatiran malaikat dan iblis dulu saat proses penciptaan cukup beralasan karena dia tau kalau manusia mempunyai potensi untuk melakukan hal itu. Hanya saja, Iblis teguh akan pendiriannya untuk tidak percaya pada sifat Ilmu-Nya Allah. Artinya dalam konteks dan situasi tertentu, Iblis masih lebih baik dari manusia.

Maka pertanyaannya kemudian adalah: siapa yang lebih “Iblis” dari Iblis?
Sebarkan: